Penyakit Babi dan Pengobatannya

Melaksanakan upaya pencegahan penyakit adalah lebih baik daripada membiarkan ternak sakit baru mengobatinya. Karena apabila sampai babi yang dipelihara mengalami sakit, peternak akan rugi tenaga, waktu dan biaya. Upaya-upaya pencegahan penykit secara umum adalah sebagai berikut:
  • Babi yang dipelihara hendaknya berasal dari kelompok babi yang sehat, tidak pernah terjangkit suatu penyakit.
  • Kandang selalu dibersihkan setiap pagi, sebaiknya sebelum makan diberikan.
  • Kandang tidak becek.
  • Jumlah ternak babi dalam kandang harus sesuai dengan luas kandang
  • Ransum setiap hari diberikan dalam jumlah dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan ternak babi.
  • Berikan obat cacing dan pencegahan penyakit/vaksin secara teratur
  • Bila ada kelainan segera hubungi petugas peternakan.
Pada pokoknya penyakit yang menyerang babi bisa digolongkan menjadi dua:
  1. 1. PENYAKIT TIDAK MENULAR
Misalnya penyakit akibat kekurangan zat-zat makanan tertentu (deficiency) seperti :
Anemia, (kekurangan darah)
Penyebab: kekurangan zat besi dan tembaga, babi induk air susunya hanya sedikit mengandung zat besi.
Gejalah: Pucat, Diare (mencret), pertumbuhan terganggu dan kehilangan berat badan, babi banyak berbaring dan buang kotoran disekitar tempat berbaring.
Pencegahan dan Pengobatan :
ü  Babi bunting diberi makanan tambahan mineral yang banyak mengandung zat besi dan tembaga.
ü  Anak babi bisa diberi zat besi dan tembaga dengan jalan injeksi: misalanya pigdex dengan dosis tepat.
  1. 2. PENYAKITA MENULAR
Yakni penyakit yang disebabkan oleh gangguan dari suatu organisme (bakteri, virus), dan parasit seperti cacing, kutu dls. Misalnya:
  • Mencret (Scours) adalah penyakit yang menyerang alat pencernaan atau usus. Mencret banyak menyerang anak babi atau babi-babi muda. Secara umum yang mempercepat terjadinya mencret ini adalah sanitasi yang tidak baik, udara lembab, tanpa alas kandang, kurang gizi dan stress.  Mencret normal yang menyerang anak babi yang masih kecil biasanya adalah (1) terlampau banyak air susu, 2-3 hari sebelum beranak sampai minggu setelah beranak makanan iduk dibatasi supaya tidak mengganggu alat pencernaan anak babi yang baru lahir. (2). Sementara babi menyususi induk babi mengalami birahi tenang (tidak kelihatan, sering terjadi 3 minggu setelah beranak) sehingga mengakibatkan perubahan hormonal yang mempengaruhi susunan air susu. (3). Pada saat anak disapih, oleh karena itu, pada saat menyapih harus dilakuakan secara bertahap, jangan mendadak, tetapi dengan memberi makan penguat sedikit demi sedikit sambil masih tetap menyusui; dan (4). Infeksi karena cacaing, bakteri atau disentri.
  • Mencret putih (White scours). Penyebab penyakit ini adalah bakteri E.coli yang masuk lewat tali pusat yang sakit (infeksi). Bila didukung kondisi lingkungan yang kurang baik (seperti yang dijelaskan diatas) anak babi mudah terjangkit sakit mencret putih.
ü  Gejalah: kotoran berupa cairan yang berwarna putih seperti kapur dan sangat lemah, tidak mau menyusu serta kepala menunduk
ü  Pencegahan dan Pengobatan: kandang usahakan kering dan diberi alas dan makanan diberi tambahan aureomycin, TM 10.
ü  Penyakit ini biasanya diikuti disentri, anemia dll.
  • Brucellosis (Penyakit keguguran menular), penyebab penyakit ini adalah bakteri Brusella suis.
ü  Gejalah: bila menyerang induk menyebabkan keguguran pada setiap kebuntingan (walaupun tidak semua keguguran disebabkan Brusellosis terlalu sering keguguran dapat disebabkan oleh Brusella) dan bila menyerang jantan, radang testes, lumpuh sampai mandul.
ü  Pencegahan dan pengobatan: sanitasi (beli bibit yang bebas dari brucellosis), vaksinasi, dan ternak yang diserang sebaiknya dikeluarkan, jangan dipelihara lagi. Penyakit ini suli diobati karena obat belum ditemukan, vaksinasi penting
  • Penyakit ngorok. Penyebab penyakit ini adalah bakteri Pasturella multocida.
ü  Gejala: (1). Yang terserang sesak nafas karena ada lendir dalam pernafasan, ada suara ngorok dan leher terlihat bengkak, (2). Penyakit berlangsung cepat kira-kira   1 minggu, (3). Suhu badan naik, kadang-kadang disertai mencret, dan (4). Yang akut terus mati tibab-tiba tanpa didahului gejalah apapun.
ü  Pencegahan dan pengobatan: (1). Sanitasi dan pengelolaan yang baik (makanan), (2). Memisahkan babi yang sakit dan (3). Tahap awal babi bisa diobati dan diberi obat antibiotik (Penicllin IM, Sulmet injeksi).
  • Penyakt kudis (scabies): Penyebab penyakit ini adalah:
ü  Gejalah: babi mengalami kerusakan kulit dengan luka-luka yang berkerak
ü  Pencegahan dan Pengobatan: (1). Babi yang sakit segera dipisahkan supaya tidak menular kepada lainnya, (2). Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektan dengan lysol dan lain-lain, supaya kutu yang menempel dikandang mati, dan (3). Yang sakit diobati dengan scabisix atau dalam keadaan darurat dapat diolesi dengan oli bekas atau minyak kelapa yang dicampur dengan tepung belerang.
  • Penyakit tetanus: Penyebab penyakit ini adalah bakteri Clostridium tetani yang masuk melalui luka terbuka.
ü  Gejalah: (1). Terjadi kekejangan pada urat daging, mulut, leher, dan anggota badan lainnya, (2). Sulit bergerak, perut keras mengejang sulit bernafas, (3). Kotoran dan air kencing tertahan.
ü  Pencegahandan Pengobatan: alat-alat untuk kastrasi harus steril, (2) luka bekas kastrasi harus diberi antibiotik (preparat sulfa) atau suntikan dengan serum tetanus.
  • Penyakit cacing bulat: Penyebab penyakit ini adalah cacing ascaradis, banyak menyerang babi muda
ü  Gejalah: (1). Babi anak kerdil, perut besar dan punggung mengkerut tampak bungkuk; (2). Mencret, nafsu makan kurang; dan (3). Bila serangan hebat timbul gejalah pneumonia.
ü  Pencegahan dan pengobatan: (1). Sanitasi kandang; (2). Bila anak babai hendak dilepas, jangan ditempat yang biasa untuk melepas babi dewasa; dan (3). Beri piperazine yang dilarutkan dalam air. (dosis lihat petunjuk pemakaian).

Comments